GfM0GSM5BSOoTSG0TUOiGSYpTi==

Inspiratif Parenting SMPN 2 Porong: Dr. Mufarrihul Hazin Ajak Bangun Sinergi 3 Pilar Utama


SIDOARJO — Pendidikan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah maupun orang tua. Keberhasilan pendidikan membutuhkan sinergi antara orang tua, anak, dan sekolah. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Parenting dan Sosialisasi Program serta Visi Misi SMP Negeri 2 Porong yang digelar di Masjid SMP Negeri 2 Porong, Sabtu (8/8/2026).

Dalam kegiatan yang berlangsung selama 120 menit tersebut, Dr. Mufarrihul Hazin, S.Pd.I., M.Pd. mengajak orang tua dan peserta didik kelas VII untuk melihat pendidikan dari perspektif yang lebih manusiawi: saling memahami, saling mendengar, dan saling menguatkan. Kegiatan parenting ini secara resmi mengusung tema “Membangun Sinergi Sekolah dan Orang Tua untuk Mendukung Keberhasilan Belajar dan Penguatan Karakter Murid Kelas VII.”

Bukan Mencari Siapa yang Salah

Dalam penyampaiannya, Dr. Mufarrihul menekankan bahwa hubungan orang tua dan anak sering kali bukan bermasalah karena tidak adanya cinta, melainkan karena perbedaan cara memahami dan mengekspresikan cinta.

Orang tua merasa sedang menasihati karena sayang. Namun, terkadang anak menangkapnya sebagai bentuk ketidakpercayaan. Sebaliknya, anak merasa sedang mencari ruang untuk berkembang, sementara orang tua dapat melihatnya sebagai sikap membangkang.

“Orang tua tidak harus menjadi sempurna. Anak juga tidak harus menjadi sempurna. Kita semua sedang belajar memahami satu sama lain,” menjadi pesan utama yang dibangun dalam sesi tersebut.

Menurutnya, anak usia SMP sedang berada dalam fase penting perkembangan diri. Mereka mulai mencari identitas, membutuhkan kepercayaan, ingin didengar, sekaligus tetap membutuhkan batasan dan pendampingan.

Karena itu, orang tua tidak cukup hanya bertanya, “Berapa nilai kamu?”, tetapi juga perlu bertanya, “Bagaimana perasaanmu hari ini?”

Anak Juga Diajak Memahami Perjuangan Orang Tua

Menariknya, kegiatan tersebut tidak hanya berisi nasihat kepada orang tua.

Anak-anak juga diajak memahami bahwa di balik sikap tegas orang tua terdapat perjuangan, kekhawatiran, doa, dan harapan terhadap masa depan mereka.

Anak diajak menyadari bahwa orang tua mungkin tidak selalu mampu mengungkapkan kasih sayangnya dengan bahasa yang mudah dipahami. Namun, banyak keputusan orang tua lahir dari keinginan agar anak tumbuh aman, sehat, berpendidikan, dan memiliki masa depan yang baik.

“Kadang orang tua berkata keras karena khawatir. Anak kemudian mendengar bahwa dirinya tidak dipercaya. Di sinilah komunikasi menjadi jembatan,” jelasnya dalam sesi parenting.

Sebaliknya, orang tua juga diajak memahami bahwa anak bukan sekadar objek pendidikan. Anak memiliki perasaan, kegelisahan, harapan, dan persoalan yang tidak selalu mampu mereka ceritakan.

Momen Reflektif Orang Tua dan Anak

Suasana semakin emosional ketika peserta diajak melakukan refleksi bersama.

Orang tua dan anak diminta untuk saling melihat, mengingat kembali perjalanan hubungan mereka, kemudian menyampaikan hal-hal yang selama ini mungkin jarang diucapkan.

Peserta juga diajak menuliskan ungkapan sederhana berupa “terima kasih”, “maaf”, dan harapan kepada satu sama lain.

Pesan yang dibangun bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi bagaimana keluarga dapat kembali menjadi tempat pertama bagi anak untuk merasa aman, diterima, dan dicintai.

Dalam refleksi tersebut, orang tua diajak mengatakan kepada anak:

“Kami mungkin belum menjadi orang tua yang sempurna, tetapi setiap doa kami selalu menyebut namamu.”

Sementara anak diajak menyampaikan:

“Aku mungkin belum menjadi anak yang sempurna, tetapi aku ingin terus belajar menjadi kebanggaan Ayah dan Ibu.”

Sekolah, Orang Tua dan Anak adalah Satu Tim

Dr. Mufarrihul juga menegaskan pentingnya membangun paradigma bahwa sekolah dan orang tua bukan dua pihak yang saling menyalahkan ketika terjadi persoalan pada anak.

Keduanya harus menjadi mitra.

Sekolah memiliki tanggung jawab mendidik dan mendampingi. Orang tua memiliki peran utama dalam membangun lingkungan keluarga. Sementara anak merupakan subjek yang harus dilibatkan dalam proses pendidikan dan perkembangan dirinya.

“Tidak ada musuh dalam pendidikan. Yang ada adalah tiga pihak yang sedang berjuang untuk tujuan yang sama: sekolah, orang tua, dan anak,” pesannya.

Konsep tersebut kemudian dirumuskan dalam satu pesan sederhana:

“Kita Satu Tim.”

Ketika sekolah, orang tua, dan anak berjalan dalam arah yang sama, pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi juga membentuk karakter, kemandirian, tanggung jawab, dan kematangan emosional.

Pendidikan Dimulai dari Rumah

Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama tentang arti keluarga dalam perjalanan pendidikan seorang anak.

Dr. Mufarrihul mengingatkan bahwa masa remaja akan berlalu. Anak yang hari ini masih duduk di bangku kelas VII suatu saat akan tumbuh dewasa, meninggalkan rumah, dan membangun kehidupannya sendiri.

Karena itu, waktu yang dimiliki orang tua dan anak hari ini harus dimanfaatkan untuk membangun hubungan yang sehat.

“Suatu hari anak akan tumbuh dewasa. Suatu hari orang tua akan menua. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya kebersamaan hari ini.”

Kegiatan parenting tersebut menjadi bagian dari rangkaian agenda SMP Negeri 2 Porong yang sebelumnya diawali dengan istighotsah dan pembukaan, sambutan kepala sekolah, sosialisasi program sekolah, serta sambutan ketua komite. Sesi parenting berlangsung pukul 09.30–11.30 WIB di Masjid SMP Negeri 2 Porong.

Pada akhirnya, parenting bukan sekadar tentang bagaimana orang tua mendidik anak.

Lebih dari itu, parenting adalah tentang bagaimana orang tua dan anak sama-sama belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Sebab pendidikan terbaik bukan hanya membuat anak menjadi pintar, tetapi membuat anak tetap memiliki rumah yang ingin ia pulangi.

0 Comments

Responsive Banner Slot
Responsive Banner Slot
Responsive Banner Slot